Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

WHY?

Pagi tadi, sebelum saya ‘hampir kehabisan nafas’ karena banyak pekerjaan, seorang teman mengobrol dengan saya di jendela percakapan Facebook. Namanya Shinta, kakak perempuan dari teman les Bahasa Jepang saya yang ternyata juga sudah mengenal saya dari milis sebuah majalah perempuan. What a small world.

Dia menyapa saya terlebih dulu. Saat itu saya sedang asyik membuka youtube.com untuk mencari video klip 3T, kelompok vokal beranggotakan keponakan-keponakannya Michael Jackson, yang berjudul Why; selain bertujuan untuk mendengarkan lagu tersebut, saya juga berniat untuk menulis sesuatu based on that song. Lagu ini memang termasuk lagu favorit saya dan sumpah mati dulu pernah tergila-gila dengan anggota-nya yang paling bungsu! Haha!

Awalnya tidak ada yang istimewa dari percakapan kami berdua; hanya sekedar being nice saja. Menyapa, memberikan salam, bertanya keadaan, dan semuanya mengalir begitu saja (hey, at the end of conversation, saya dapat ajakan untuk bedah buku di coffee corner lho! Can you imagine? Betapa menyenangkannya membahas sebuah dunia yang saya cintai di sebuah tempat yang saya akrabi! Uhui!)

Percakapan seadanya itu menjadi seru ketika saya iseng melihat status yang ia tulis pagi ini.  “Bagaimana kamu tahu kalau lelaki itu benar-benar jodohmu?”

Segera saya iseng mengetik beberapa kalimat:
You just know.”

Percakapan menggelinding.
“Hanya rasa aja, Mbak?” tanya Shinta.
“He eh,” tukas saya.
“Cuman perasaan?” masih tanya kawan saya itu.
“He eh. Kamu tahu kenapa?” kini giliran saya bertanya.
“Apa, Mbak?”
“Karena buat aku, Dek, siapa jodoh kita baru bisa benar-benar kita ketahui di akhir hidup kita. Selama nafas masih bebas dilakukan, kita nggak akan pernah tahu siapa yang menjadi jodoh kita. Jadi buat apa menanyakan pertanyaan yang tak bisa dijawab, kan? Kalau pertanyaan itu aku jawab, artinya aku sudah mati. Serem, kan?”
“Gitu, ya, Mbak?”
“Hm, paling tidak, itu menurut aku, Dek. Makanya, daripada repot-repot bertanya, mendingan kita tajemin intuisi aja dan percaya bahwa kita telah memilih orang yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidup. Mempersiapkan diri menghadapi apapun yang akan terjadi sebagai konsekuensi,” lanjut saya, masih dengan lagak sok keminter! Haha… edan bener, deh, Jeung Lala kalau lagi ngasih ceramah!
“Jadi, cuman intuisi aja, Mbak?”
“Shin, jodoh itu tidak punya kriteria, tidak ada parameter yang jelas. Beda dengan suami atau istri yang baik. Dari awal, kalau aku tahu lelaki itu hobi ninju badanku, artinya dia bukan suami yang baik (petinju yang baik, mungkin? hehe). Ngapain aku menikah sama dia? Parameter dan kriteria seperti itu bisa kita terapkan, tapi soal jodoh? Apa kriterianya? Wong itu sudah diatur ketika kita masih janin, kok!”

Percakapan dengan Shinta membuat saya teringat dengan percakapan beberapa jam sebelumnya, dengan seorang gadis manis di Jawa Barat sana yang tiba-tiba mengirim sebuah email dan isinya hanya pendek saja: “Mbak, aku lagi sedih…”

Dari beberapa email berikutnya, saya akhirnya tahu kalau dia baru saja berpisah dengan tunangannya. Iya. Tunangannya! Lelaki yang baru saja menyematkan cincin pertunangan dan mengajaknya merancang hari bahagia mereka dalam waktu dekat, ternyata tak lagi sepaham.

I want to be dissapeared…” katanya.

Dia merasa dunianya runtuh. Hah. Jelas saja! Saya yang putus pacaran saja bisa kelimpungan seperti orang gila, apalagi teman saya ini? Adik perempuan saya ini? Saya ingat betapa bahagianya dia saat bercerita tentang rencana pernikahannya ini, jadi saya bisa membayangkan betapa hancur hatinya saat ini! (Dek, be strong! Ayo, inhale-exhale… pelan-pelan aja, ya…)

“Kenapa harus begini, sih?” Dia mengeluh.

Pertanyaan itulah yang tiba-tiba muncul kembali di dalam isi kepala saya ketika Shinta bertanya: “Bagaimana kamu tahu kalau dia benar-benar jodohmu?”

Hm…
Kamu tahu, nggak, kenapa?

Karena keduanya adalah jenis pertanyaan yang sebetulnya tak perlu kamu jawab, tapi kamu rasakan… kamu maknai dalam hati… bukan menuntut jawaban pada saat itu juga, tapi kamu ketahui pelan-pelan… Nanti. Tidak sekarang. Nanti. Sabar saja.

Kenapa harus begini, sih?
Well, I don’t know, Dear.  You’ll figure it out, later.

Bagaimana kamu tahu kalau dia benar-benar jodohmu?
Well, frankly, I have no idea. You just know. Later.

Kapan aku menemukan seseorang yang bisa membuat kupu-kupu itu terbang di atas perutku?
Well, I have no idea, Jeung Lala. Sabar napah! :D

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah percuma; tidak pernah ada jawaban instan, kecuali kamu jalani, kecuali kamu lewati, kecuali kamu biarkan waktu bergulir dan berbicara padamu di saat yang paling tepat. Dan ketika ia sedang bicara padamu, dengarkan. Biarkan dia berbicara ke hatimu. Biarkan dia membisik di telingamu. Dengarkan saja. Dan saya yakin, kamu akan tersenyum saat mengetahui jawabannya…

Why does Monday come before Tuesday ?
Why do summers start in June ?
Why do winters come too soon ?
Why do people fall in love,
When they’re always breaking up ?
Oh why ?
Why do we love if love will die ?
Why does Wednesday come after Tuesday ?
Why do flowers come in May ?
Why does springtime go away ?
Why do people fall in love,
When they’re always breaking up ?
Oh why ?
Why do I love you ? Tell me why?
(Why, 3T)

Mereka cerewet banget, kan? Nanya mulu! :D
Mana saya tahu kenapa duluan Senin daripada Selasa? (eh, jangan-jangan udah ada teorinya, tapi saya-nya yang gebleg? hihi!)
Mana saya bisa tahu kenapa musim panas bermula di bulan Juni? (udah deh, ya.. kalau emang ada teorinya, berarti saya bener-bener gebleg! Haha)

I’m clueless. Benar-benar nggak tahu. Bego, sebego-begonya! Sumprit! Kalau nggak percaya, tanya aja toko sebelah! *haha, ini sih, kata-katanya OM NH18 banget…*

Dari semua pertanyaan itu, saya bisa menjawab, at least, satu saja. Pertanyaan yang ini nih: Why do people fall in love when they’re always breaking up ?

Mau tahu apa  jawaban saya?
Sederhana saja.
Because it feels so damn nice when it works out!

Iya, nggak, siiihhhhh…. *kedip-kedip* :)

***

Originally written on Feb, 20, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: