Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

When Hating Him is the Most Possible Way Out

Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right
Have you ever, have you ever…

(Have You Ever, BRANDY)

 

Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, masa awal-awal kuliah dulu. Sebuah lagu yang akhirnya menggiring saya pada pertanyaan yang sama, untuk diri saya, juga untuk kamu, untuk kalian.

Have you ever loved somebody, so bad?

Sampai-sampai kamu kehilangan sejuta akal dan logika yang dipersembahkan Tuhan kepadaMu, sehingga kamu melakukan apa saja asal itu bisa membuktikan bahwa kamu mencintai Kekasihmu? Tidak perlu yang terlampau jauh, tapi let’s say… yang dimaksud dengan melakukan apa saja itu seperti kamu mau-mau saja harus dikekang dengan dia yang otoriter. OK. Being sensitive is good, tapi kalau sampai membelenggu kaki-kaki kamu dalam melangkah dan bersosialisasi lalu membuat kamu hanya berada dalam satu rangkulannya saja… Hey! it’s no longer being sensitive… it’s a Hitler in disguishe!:)

Banyak contoh lain kebodohan-kebodohan yang terjadi ketika saya atau kamu sedang jatuh cinta seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Betapa naifnya saya dan kamu ketika bunga-bunga, berikut dengan kupu-kupu warna-warninya, tergambarkan dengan sempurna di hati. When love is in the air…sepertinya hidup menjadi jauh lebih menyenangkan!

 

Have you ever found the one you’ve dreamed of all of your life
Just about anything to look into their eyes
Have you finally found the one you’ve given your heart to
Only to find that one won’t give their heart to you
Have you ever closed your eyes and dreamed that they were there
And all you can do is wait for the day when they will care…

 

Tapi…

Apa yang terjadi ketika kita cinta itu menghabis? Atau bahkan, ketika saya atau kamu menawarkan sejuta kasih sayang berbalut pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya, tetapi si Pemilik Hati yang tengah kita hadiahi cinta itu malah kabur, lari, atau menolak dan mengatakan, “I’m so sorry, saya nggak bisa mencintai kamu, like you always wanted me to do“?

Menangiskah, kamu?

Bersedihkah, kamu?

Berteriak marah-marah, sekaligus menyumpah?

Atau kamu diam… Diam saja.. Lalu perlahan-lahan kamu berkata dari dalam hati, “Seandainya memang ini nggak terbalaskan… Seandainya memang cinta harus berhenti… Saya akan pergi saja..Sampai saya menemukan kekuatan untuk menyentuhnya lagi, minus hati yang bergetar…

Kamu berhak melakukan apa saja untuk menenangkan hati kamu.

Bisa dengan menangis tanpa henti…

Atau ‘bertapa’ di dalam kamar sampai berhari-hari…

Lalu marah-marah, berteriak, dan menyumpahi… Screw you, a**ho*e

Apapun itu.

Tapi…

Bagaimana jika kamu berpisah dengan seseorang yang sungguh kamu cintai itu, hanya karena kamu HARUS berpisah? Bahwa kamu TERPAKSA berpisah? Ketika cinta menyala hangat di dalam dada kamu, tiba-tiba saja kamu harus memadamkannya dan membiarkan cinta itu tak lagi menghangatimu?

Padahal saat itu; hanya wajahnya yang teringat di dalam benak…

Hanya senyum lucunya…

Atau guyonan segarnya yang membuatmu tertawa sendiri setiap mengingatnya…

Ya.

Apa yang kamu lakukan ketika kamu harus menyudahi perasaanmu padahal cinta itu masih demikian hebatnya mengguncang duniamu?

Hm…

Ketika ini terjadi pada perempuan terdekat saya, dia hanya bisa bilang begini:

I’ll try to forget him, La…”

“Bagaimana?”

Simply by.. hating him.”

“Membenci dia? Apa salahnya?”

“Dia nggak salah.”

“Lantas?”

“Aku harus punya alasan untuk melupakan dia, right in the moment when I love him the most…

I am lost.”

“Aku nggak bisa dengan sengaja melupakan dia, La. Aku harus punya perasaan marah sama dia supaya aku punya alasan untuk melupakan dia.”

“Jadi?”

When hating him is the most possible way out… I think I better doing it…

Dan ya.

Perempuan terdekat saya itu memilih untuk membenci lelaki yang ia puja. Membenci lelaki yang memberinya mimpi-mimpi indah. Yang menghadirkan surga lebih dekat; only one call away. Yang membuat hari-harinya sungguh lengkap; tawa, canda, dan air mata rindu yang tertahan.

Dia memilih untuk marah saja.

Benci saja.

Lalu membiarkan amarah dan kebencian itu membakarnya…

Dan menumbuhkan inginnya untuk melupakan sang Kekasih.

Kekasih, yang tidak pernah salah apa-apa…

Hhh…

Seandainya itu terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan ya?

Membenci juga? Lalu marah?

Atau… mencoba untuk menikmati saja setiap luka sampai perlahan-lahan saya capek sendiri?

*sigh*

Entahlah.

Kalau kamu? What will you do?

***

Originally written on October 14, 2008


Responses

  1. gak mau benci…memang sih ‘jalannya’ jadi lebih panjaaaaaaaaannng n laaaaaammmmmmaaaa…

    tapi dengan membenci kita justru akan lebih gak bisa lepas dari dia. kta akan terus berkutat sama dia yang kita benci (akhirnya jadi ‘benar-benar cinta’ sungguhan). kan malah repot kl sampe kyk gt. benci itu busuknya hati.

    aku setuju banget sama apa kata2 kamu dsni:

    Seandainya memang ini nggak terbalaskan… Seandainya memang cinta harus berhenti… Saya akan pergi saja… Sampai saya menemukan kekuatan untuk menyentuhnya lagi, minus hati yang bergetar…

    and yang ini:

    “Berhenti melawan perasaan itu dan coba untuk kunyah saja semua rasa sakitnya. Seperti mengunyah permen karet, Riz. Semakin lama kamu kunyah, rasa itu akan semakin hilang. Jadi, kunyah saja terus, dan terus. Nikmati saja rasa yang keluar dari hasil kunyahanmu itu sampai akhirnya tidak berasa sama sekali. Saat rasanya sudah hilang, spit it out. Buang. Selesai.”

    so dont hate. ikhlasin aja.. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: