Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

Kenapa Kita Selalu Mencintai Lelaki-Lelaki yang Salah, ya, La?

Ada satu pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut sahabat saya ketika pagi tadi kami bergosip via telepon.

“Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?”

Dan pertanyaan itu dengan segera membuat saya kepikiran, bahkan ketika kami menyudahi percakapan 11 menit yang musti selesai karena jumlah pulsa yang tidak mencukupi untuk melanjutkan percakapan.

Dalam 11 menit tadi, akhirnya kami memang tidak banyak bicara soal ‘Lelaki-Lelaki yang Salah’ itu tadi. Percakapan dua sahabat dengan durasi pendek itu akhirnya mengalir ke hal-hal yang lain, seperti membuat janji untuk berkangen-kangenan akhir pekan ini.

Tapi saya ingat, Yun bilang begini:

“Aku juga nggak ngerti, La, kenapa aku selalu ketemu laki-laki yang ternyata sudah beristri lah… Yang nggak se-agama lah… Yang keluarganya reseh lah…” Dan ya, I recall every names she mentioned, lelaki-lelaki yang telah mengacak adut hati sahabat saya itu. “Kenapa sih, La?”

Saat itu saya cuman cengar-cengir dan mulai mengalihkan pembicaraan. Dengan mengetahui persis berapa jumlah pulsa yang tersisa di ponsel saya siang tadi,  saya tak berani melanjutkan pembicaraan ini kemana-mana. We still have this weekend to talk about this, in details. Hm, I bet,  it’s going to be hot!

Usai 11 menit itu, lalu menghabiskan waktu dengan melakukan banyak hal, dan kembali lagi ke depan laptop, di dalam sebuah  ruang kamar yang tak berpenghuni selama lima hari, saya kembali memikirkan pertanyaan itu.

Really, Yun?
Always ‘trapped’ with the wrong guys?
Kamu? Saya? Seriously?

Kalau kata-kata ini benar: Cinta Tak Pernah Salah.
Berarti yang salah cuman saya, juga Yun.
Tapi kenapa kami malah harus bertemu dengan mereka ketika mereka malah membuat kami terluka? Kenapa ketika mereka tak bisa membalas apa yang kami berikan lalu berselingkuh dengan perempuan lain? Atau, ketika mereka mencintai kami, tapi telah berjanji pada hati perempuan lain?

Apa maksudnya?

Somehow, saya selalu percaya bahwa setiap orang yang datang ke dalam hidup saya tidak datang untuk sia-sia. Mereka datang untuk ‘mengajari’ saya. Mereka tidak hanya melukai, tapi mereka memberikan kekuatan pada saya untuk mengunyah luka itu dengan sepenuh hati, sambil perlahan-lahan, dengan berjalannya waktu, saya tahu, dalam setiap kunyahan luka itu saya telah mencicipi sebuah pelajaran.

Tapi… kenapa harus berkali-kali, ya?

Apa saya memang harus bergelar Doktor dulu baru semua ini selesai?

Atau memang… seperti  yang Ties, My Mirror, bilang, bahwa…

Because we’re challenged people. Only selected people who can deal with this. ‘Normal’ people don’t have that ability to face this. Only us. The challenged ones.”

Jadi maksudnya, saya dan Yun (juga kamu ya, Ties?) adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi ‘pintar’? Begitu?

Hh…

Dalam pergumulan batin yang minus kopi tapi plus perut keroncongan karena belum diisi, saya putuskan untuk melakukan ini.

STOP ASKING A QUESTION THAT WE’LL NEVER FIND OUT WHAT IS THE ANSWER.

Karena kamu hanya akan frustasi.
Karena kamu hanya akan gila sendiri.
Karena kamu hanya akan sinting sendiri.

There.
At this very moment
, saya tepiskan saja pertanyaan Yun tadi, yang sempat meracuni pikiran saya seharian ini.

“Kita nggak mencintai lelaki yang salah, Yun… Mungkin malah mereka yang mencintai perempuan yang salah…”

Karena…

Kalau memang saya mencintai lelaki yang salah, apakah mereka, lelaki-lelaki yang salah itu, yang sampai kini masih sendiri dan bermain-main dengan hati perempuan lain, tidak menganggap Lala, alias saya sendiri, adalah perempuan yang salah juga? Buktinya mereka memutuskan untuk merebut hati perempuan lain karena merasa telah salah memilih saya, kan? :)

***

Originally Written on : 18 Agustus 2008

Advertisements

Responses

  1. Tapi… kenapa harus berkali-kali, ya?

    Hehehehe.. ini mah mungkin karena kita-nya ngga juga belajaaarr.. makanya terus dikasih hal yang samaa :p

    Inget kata2nya si Oprah?

    Pertama2 kita ditimpuk pake batu kerikil, kalo masih ngga nengok juga mulai dhe disambit pake batu bata, kalo masih ngga ngeh jugaa ntar kita bakal nabrak tembok beton, hihihihi..

    Hehe..
    begitu nabrak tembok terus masih nggak kerasa juga, artinya? Bebal bener ini anak! hahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: