Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

and if he dies…

Suatu sore, seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba menyapa saya dichat messenger. Entahlah, saat itu dia sedang panik, butuh jawaban segera, atau karakternya memang seperti itu. Pastinya, tanpa basa basi, menanyakan kabar atau bagaimana, dia langsung segera ke inti masalah:

“Mbak, aku mau nanya, ya?”
“Tanya apa?”
“Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter kalau usianya tinggal beberapa tahun lagi, gimana, Mbak?”
“Mmmm…” Mikir.
“Terus, misalnya Pacar Mbak itu nggak bisa temenin Mbak jalan-jalan, hang out.. ya, kayak orang pacaran pada umumnya gitu, deh… Mbak masih mau pacaran sama dia, nggak?”
“Mmmm…” Mikir, jauh lebih ribet.
“Gimana, Mbak?”

Saya diam. Cukup lama, sampai teman saya itu mengira koneksi internet saya terputus. Maklum, saya memang hobi memasang status invisible (bukan karena apa-apa, sih, tapi karena saya memang jarang ceting aja selama jam kerja, sehingga teman saya itu tidak bisa mengetahui dengan persis apakah saya sedang berpikir atau koneksi saya mendadak terputus.

Jadi, mumpung disangka disconnected, saya gunakan waktu itu untuk berpikir. Hehe, biar disangka pinter, gituh… Well, jujur saja, minimnya pengalaman saya pada kondisi itu, membuat saya musti mengembangkan imajinasi saya seluas-luasnya. Dan saya tahu, she needed my opinion... iya. Second opinion.

“Mbak?”

Okay. Saya tahu, saya tahu. Ada satu pertanyaan yang musti saya tanyakan pada dia saat itu, sebelum saya mulai ngoceh nggak karuan ala psikolog gadungan.

“Dek, gini, gini. Aku boleh nanya sesuatu, kan?”
“Boleh, Mbak. Mau nanya apa?”
“Memangnya, aku udah pacaran berapa lama sama Pacarku yang sakit itu?”
“Kalau sudah lama, Mbak? Tiga tahunan gitu, gimana, Mbak…”
“Mmm… Ok. Terus, terus. Dari awal aku udah tahu nggak, kalau Pacarku sakit?”
“Kalau baru tahu sekarang?”

Dan saat itu, I know exactly what I was about going to say

**

Do you know how often people lose their logic when they’re in love?

Ketika saya bilang ‘People‘ artinya adalah orang kebanyakan, bukan orang pintar atau bodoh saja, orang cantik atau ganteng saja, orang kaya atau miskin saja, atau manusia yang terkelompok-kelompok dalam golongan status, jenis kelamin, pekerjaan, agama, dan lain sebagainya.

People. Ya, ya, yang artinya adalah kamu, saya, dan mereka.

So, do you know that we often lose our logic when we’re in love? Do you know how stupid you may react when it comes about love? Meletakkannya di kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang bicara? Menepikan sebentar resiko-resiko sakit hati yang musti dirasakan kalau cinta itu sudah berakhir tapi perasaan itu masih nyata?

Do you?
Or, for once again,
saya menjadi manusia aneh yang seringkali melupakan bahwa hati saya ini bukan dari besi baja (seingat saya, sewaktu terakhirmedical check up, saya masih manusia biasa, bukan bionic woman.. hehe), yang punya spare part kalau sewaktu-waktu rusak dan proses penggantian yang tidak terlalu rumit serta minus air mata?

Karena saya selalu merasa bodoh ketika sedang jatuh cinta. Saya lupa, kalau di dunia ini selalu ada konsep yang berlawanan. Heaven and Hell. Right and Left. Young and Old. Dan pastinya… Happy and Sad.

Bahagia ketika cinta sedang asyik bermain-main dalam setiap kedipan mata saya.
Lalu sedih ketika cinta itu memutuskan untuk pergi meninggalkan saya.

Dan kebodohan apa yang saya lakukan?

Most of the times, because I always knew that my relationships were going no where. I had no future with them, I couldn’t even picture them as my husbands,dan berlindung di bawah shelter bernama kebahagiaan yang saya rasakan pada saat itu, I know now, that it was only my defense mechanism. Berkata, “Nope, that’s OK” padahal di malam harinya saya berteriak, “Will you stop torturing me!”

Bodoh, kan?

Nah, apakah saya juga bodoh kalau saya tak ingin beranjak pergi ketika mengetahui Kekasih yang saya cintai tak lagi bisa sebebas tahun-tahun sebelumnya, ketika ia bisa menjadi orang pertama yang akan bergegas mengantarkan saya kemana saja, selama bisa ditempuh, selama bisa dilakukan, asal tidak memintanya pergi mengantarkan saya ke Italia cuman karena saya mengidam spageti asli bikinan koki Italia?

Apakah saya juga bodoh kalau mengubah semua kebiasaan nonton, jalan-jalan, belanja, hunting tempat hang out terbaru, dan memilih untuk berkunjung ke rumahnya dan duduk di sofa ruang keluarganya sambil menikmati film di layar televisi?

Apakah saya bodoh kalau saya tetap ada di sampingnya ketika ia meminta saya untuk meninggalkannya, hanya karena takut dia tak pernah menjadi suami yang baik untuk seorang perempuan lajang, berpendidikan, dan memiliki karir di kantor?

Apakah sekali lagi saya meninggalkan logika itu di bawah kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang mengendalikan semua keputusan saya?

Call me stupid.
Idiot.

Atau apa saja, lah.

Jika saya dikatakan bodoh hanya karena saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, yang harum tubuhnya sangat saya kenali, yang jemarinya selalu membelai rambut saya saat sedang menangis karena kesal yang tak berujung, yang bibirnya telah mengecup ubun-ubun kepala saya sembari memberikan sugesti dalam hati kalau sebentar lagi segala risau itu pasti pergi…….

He didn’t leave in my worst of times.
How could I leave my guy, ketika saya tahu bahwa orang yang terdekat di dalam hatinya hanya saya, bukan Ibu dan Ayahnya, bukan Kakak-Adiknya, bukan teman-temannya, melainkan saya saja yang sudah bertahun hafal-hafal betul dengan kebiasaan nyengir khasnya, kernyitan di dahi yang khas saat berpikir, senyum manisnya yang meneduhkan, dan moment without words yang penuh kalimat cinta di udara?

No, no way.
I would stay.
Ini bukan soal saya membalas budi saja, tapi karena saya tahu,leaving him in his worst of times is killing him even more. Dan kalau saya meninggalkannya hanya karena saya tak sanggup melihat tubuh kekasih saya menjadi semakin kurus setiap saat lalu merasa ketakutan pada perasaan, “What if he dies, tomorrow… What if he dies…. what if tonite, when I come to visit him, he’s gone in his sleep….” bukankah itu sama artinya bahwa saya tak pernah menggunakan cermin untuk benar-benar utuh melihat refleksi saya sendiri?

Bahwa saya juga manusia.
Yang sanggup menarik dan menghembuskan nafas, bukan karena kendali saya.
Yang sanggup berjalan, berlari, duduk, berhenti… bukan karena kendali saya.
Yang sanggup melakukan semua yang saya lakukan sampai hari ini… tidak semuanya adalah kendali saya.

Jadi masihkah saya harus sombong bahwa hidup saya lebih panjang dari Kekasih saya? Masihkah saya harus sombong bahwa saya tak ingin masa depan saya sia-sia karena Kekasih saya akan meninggal sewaktu-waktu dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saya?

Saya manusia.
Bisa jadi, saya yang lebih dulu pergi, bukannya dia… *sob*

Itulah kenapa saya tidak ingin pergi. Itulah kenapa saya memilih untuk tinggal di sampingnya, menciptakan saat-saat indah yang bisa menjadi kenangan manis kami, kelak. Bisa kenangannya tentang saya, bisa kenangan saya tentang dia.

I know, akan sangat berat ketika melihat tubuhnya yang dulu gagah, kini menyusut dari hari ke hari karena gerogotan penyakit…
Melihat matanya yang dulu sering mengerling nakal saat menggoda saya, kini memiliki bayang-bayang hitam di bagian wajahnya yang pucat…
Melihat Lelaki tercinta saya yang gelisah karena menanti kereta penjemputan yang seolah sudah terjadwal…

Siapa bilang ini tidak berat? Siapa bilang saya tidak akan menangis? Siapa bilang saya tidak akan menghabiskan malam-malam saya di kamar dengan air mata sedih? I’m crying because I know that my wonderful man is dying… Not crying over some futures that I would never have!

But no matter how painful it would be…
No matter how ruined my life could be…
No matter how sorry I might feel, if someday I would end up being alone and wouldn’t have time to look for another…
I always know,
that it’s just too impossible to leave a guy, who never hurt me in my whole life time, just because he’s sick and about to die…

No.
It’s just not me. And this is my call.

**

“Masa depan Mbak gimana, dong?”
“Memang masa depan itu apa?”
“Pernikahan, anak-anak, karir, biaya hidup…”
“Itu masa depan?”
“Iya, Mbak.”
So, what?”
“Itu nggak penting?”
“Penting, lah.”
“Kok, Mbak masih mau sama dia… Maksudku… Bukankah itu semua akan rumit kalau Mbak tetap ada di samping Pacar Mbak?”
“Rumit tidak rumit itu kan masalah hati, Dek. Semua itu tergantung dari kemantapan hati di setiap proses pengambilan keputusan. Kalau memang bimbang dan banyak keraguan, mending nggak usah. Tapi kalau memang sudah mantap, ya telan semua resikonya. Make a brief preview in every choice you wanna take. Dan kalau kamu sudah tahu dengan segala resiko yang terjadi, mudah-mudahan segalanya akan lebih mudah…”
“Jadi?”
“Jadi, ya….  I’ll stay.”
“Bener, Mbak?”
“Iya.”
“Mbak nggak takut?”
Scared? Well, I am. Tapi bukan berarti, I love him less, does it?”
“Iya.”
So?”
So apa, Mbak?”
Are you going to stay?”
“Hah?”
“Iya, kamu… Kamu milih untuk pergi atau ninggalin pacarmu?”
“Kok aku sih, Mbak…”
“Lah, tadi itu nanya-nanya buat apa, dong…”
“Hehe… iseng, Mbak.. kepingin tau aja… Tadi kan aku cuman nanya pendapat aja, kan?”
“Jadi?”
“Hehehe… Ya udah deh, Mbak… Kapan-kapan ngobrol lagi, ya! Dweeehhh….”

Saya hanya tersenyum-senyum sendiri ketika menyadari kebodohan saya; memang dari awal dia tidak pernah bilang soal itu, kok, jadi saya nyerocos panjang lebar tadi karena saya memang paling bocor kalau sudah ditanyain pendapat seperti itu. Maklum, bakat artis, kali ya… :)

Apapun itu, saya menghargai pertanyaan teman baru saya itu yang telah membuat saya semakin yakin bahwa jika itu benar-benar terjadi, saya akan melakukannya…

Ya.

Saya tidak akan pergi. Saya akan tetap bersamanya, mencari tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan penyakitnya, menghabiskan waktu seindah mungkin berdua dengannya, bersenang-senang, tertawa… saling memeluk, mengecup, dan merasakan kehangatan tubuh kami berdua…

And if he dies..
He will see my face, as the last face he sees…
He will hold my hands, as the last hands he holds…
He will smile at me…

Seorang perempuan yang tahu bahwa dia telah melakukan segalanya untuk membuat orang tercintanya bahagia, di sepanjang sisa umurnya…

Seorang perempuan yang tersenyum di antara isak tangisnya karena menyadari satu hal:
That in the whole life time God’s given to her, at least, she has made one right-perfect-clever decision…

***

Originally written on Jan, 15, 2009


Responses

  1. mbak…bagus bagus nih tulisannya..selalu dibikin terenyuh suka suka suka 🙂

    kalo aku jadi si anak yang tanya-tanya gitu nggak papa nggak si mbak hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: