Posted by: Lala Purwono | November 10, 2009

When Things Are Through

Suatu malam, seorang lelaki datang ke rumah saya. Membawa dua potong cheese cake stroberi dan blueberry favorit saya serta sepotong hatinya yang terluka. Dia datang ke rumah saya dengan wajah yang muram. Tanpa perlu menjadi paranormal untuk mengetahui kalau dia sedang patah hati, karena dari beberapa SMS dan telepon sebelum malam itu, dia sudah banyak bicara soal hatinya yang sedang meringis kesakitan. Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

and if he dies…

Suatu sore, seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba menyapa saya dichat messenger. Entahlah, saat itu dia sedang panik, butuh jawaban segera, atau karakternya memang seperti itu. Pastinya, tanpa basa basi, menanyakan kabar atau bagaimana, dia langsung segera ke inti masalah:

“Mbak, aku mau nanya, ya?”
“Tanya apa?”
“Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter kalau usianya tinggal beberapa tahun lagi, gimana, Mbak?”
“Mmmm…” Mikir.
“Terus, misalnya Pacar Mbak itu nggak bisa temenin Mbak jalan-jalan, hang out.. ya, kayak orang pacaran pada umumnya gitu, deh… Mbak masih mau pacaran sama dia, nggak?”
“Mmmm…” Mikir, jauh lebih ribet.
“Gimana, Mbak?”

Saya diam. Cukup lama, sampai teman saya itu mengira koneksi internet saya terputus. Maklum, saya memang hobi memasang status invisible (bukan karena apa-apa, sih, tapi karena saya memang jarang ceting aja selama jam kerja, sehingga teman saya itu tidak bisa mengetahui dengan persis apakah saya sedang berpikir atau koneksi saya mendadak terputus.

Jadi, mumpung disangka disconnected, saya gunakan waktu itu untuk berpikir. Hehe, biar disangka pinter, gituh… Well, jujur saja, minimnya pengalaman saya pada kondisi itu, membuat saya musti mengembangkan imajinasi saya seluas-luasnya. Dan saya tahu, she needed my opinion... iya. Second opinion.

“Mbak?”

Okay. Saya tahu, saya tahu. Ada satu pertanyaan yang musti saya tanyakan pada dia saat itu, sebelum saya mulai ngoceh nggak karuan ala psikolog gadungan.

“Dek, gini, gini. Aku boleh nanya sesuatu, kan?”
“Boleh, Mbak. Mau nanya apa?”
“Memangnya, aku udah pacaran berapa lama sama Pacarku yang sakit itu?”
“Kalau sudah lama, Mbak? Tiga tahunan gitu, gimana, Mbak…”
“Mmm… Ok. Terus, terus. Dari awal aku udah tahu nggak, kalau Pacarku sakit?”
“Kalau baru tahu sekarang?”

Dan saat itu, I know exactly what I was about going to say

** Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

WHY?

Pagi tadi, sebelum saya ‘hampir kehabisan nafas’ karena banyak pekerjaan, seorang teman mengobrol dengan saya di jendela percakapan Facebook. Namanya Shinta, kakak perempuan dari teman les Bahasa Jepang saya yang ternyata juga sudah mengenal saya dari milis sebuah majalah perempuan. What a small world.

Dia menyapa saya terlebih dulu. Saat itu saya sedang asyik membuka youtube.com untuk mencari video klip 3T, kelompok vokal beranggotakan keponakan-keponakannya Michael Jackson, yang berjudul Why; selain bertujuan untuk mendengarkan lagu tersebut, saya juga berniat untuk menulis sesuatu based on that song. Lagu ini memang termasuk lagu favorit saya dan sumpah mati dulu pernah tergila-gila dengan anggota-nya yang paling bungsu! Haha! Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

When Hating Him is the Most Possible Way Out

Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right
Have you ever, have you ever…

(Have You Ever, BRANDY)

 

Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, masa awal-awal kuliah dulu. Sebuah lagu yang akhirnya menggiring saya pada pertanyaan yang sama, untuk diri saya, juga untuk kamu, untuk kalian. Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

when you just can’t picture him in your fantasy

Sabtu kemarin, saya ‘kencan’ dengan sahabat saya, Lin. Anak edun, sinting, tapi cantik dan baik hati itu menemani saya minum coklat blended di sebuah gerai donat yang menyediakan layanan hotspot gratisan. Kenapa bukan kupi??? Karena maag saya lagi kumat abis-abisan dan Pacar bilang saya musti stop minum kopi untuk sementara waktu… aarrrgghhh… I miss coffee so f**king much! Dan terdamparlah saya di sofa-sofa empuk tersebut, di depan laptop,dan di sisi seorang sahabat yang sepertinya sedang punya banyak cerita.

Dan yah. Ternyata Lin memang sedang overloaded dengan cerita-cerita menyangkut hatinya. Dan karena itulah, saya musti pamit dengan Pacar yang kebetulan sedang online dan mendengarkan cerita-cerita Lin. Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

Kenapa Kita Selalu Mencintai Lelaki-Lelaki yang Salah, ya, La?

Ada satu pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut sahabat saya ketika pagi tadi kami bergosip via telepon.

“Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?”

Dan pertanyaan itu dengan segera membuat saya kepikiran, bahkan ketika kami menyudahi percakapan 11 menit yang musti selesai karena jumlah pulsa yang tidak mencukupi untuk melanjutkan percakapan.

Dalam 11 menit tadi, akhirnya kami memang tidak banyak bicara soal ‘Lelaki-Lelaki yang Salah’ itu tadi. Percakapan dua sahabat dengan durasi pendek itu akhirnya mengalir ke hal-hal yang lain, seperti membuat janji untuk berkangen-kangenan akhir pekan ini. Read More…

Posted by: Lala Purwono | November 7, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories