<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lala Bicara Cinta</title>
	<atom:link href="http://lalabicaracinta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com</link>
	<description>...a place where you can tell me everything about love!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 03:40:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='lalabicaracinta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8c02379f3e4eb027565597949b8a00f9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lala Bicara Cinta</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>When Things Are Through</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/10/when-things-are-through/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/10/when-things-are-through/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:40:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Broken Hearts]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Patah Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, seorang lelaki datang ke rumah saya. Membawa dua potong cheese cake stroberi dan blueberry favorit saya serta sepotong hatinya yang terluka. Dia datang ke rumah saya dengan wajah yang muram. Tanpa perlu menjadi paranormal untuk mengetahui kalau dia sedang patah hati, karena dari beberapa SMS dan telepon sebelum malam itu, dia sudah banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=28&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Suatu malam, seorang lelaki datang ke rumah saya. Membawa dua potong <em>cheese cake </em>stroberi dan <em>blueberry</em> favorit saya serta sepotong hatinya yang terluka. Dia datang ke rumah saya dengan wajah yang muram. Tanpa perlu menjadi paranormal untuk mengetahui kalau dia sedang patah hati, karena dari beberapa SMS dan telepon sebelum malam itu, dia sudah banyak bicara soal hatinya yang sedang meringis kesakitan.<span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi malam itu, saya menemaninya duduk di teras rumah saya, membiarkan teman saya itu mengisap terus batangan racun nikotin yang selalu tersedia di saku celana jeansnya. Di antara isapan racun nikotin itu, dia tiba-tiba bertanya, &#8220;Aku nggak bisa ngelupain dia, La&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Yang disebut dengan &#8216;dia&#8217; adalah seorang perempuan berparas manis yang juga teman baik saya. Kami bertiga adalah teman baik; berbagi cerita, berbagi canda, bertukar pikiran, dan <em>hang out </em>sampai tengah malam adalah agenda kami hampir di setiap ujung pekan. Saya mungkin terkadang bisa membaca pikiran orang lain, tapi tanpa perlu menajamkan intuisi pun, saya bisa mengetahui kalau Riza menaruh hati pada Maya, sahabat saya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sayangnya, Maya tidak pernah sedikitpun memandang Riza dengan sudut pandang yang berbeda. <em>He&#8217;s just a friend and will always be. </em>Apalagi, Maya sudah memiliki kekasih yang sudah dipacarinya sejak bertahun-tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Siapa yang nyuruh kamu ngelupain dia, Riz? Kamu nggak perlu melupakan dia, <em>you just have to deal with it</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Deal with what</em>?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Perasaan kamu, lah,&#8221; kata saya. &#8220;Kalau kamu melupakan seseorang padahal kamu masih cinta banget sama orang itu&#8230; <em>that&#8217;s impossible</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menghela nafas. Saya melihatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Gini, Riz. <em>It&#8217;s like keeping your favorite clothes in the cupboard.</em> Kamu selipkan di bagian paling bawah dengan harapan, kamu nggak bakal menemukan baju itu lagi. Tapi apa? Kelak, tanpa sengaja, kamu akan menemukan baju itu lagi. <em>Your favorite clothes. </em>Dan kamu tahu, kan, gimana rasanya kalau menemukan sesuatu yang sangat kamu sayangi dan lama nggak kamu lihat? Kenangan-kenangan itu akan balik lagi&#8230; Rasa senang itu bikin kamu merasa <em>head over heels</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza terdiam. Saya menduga, dia sedang mencerna kalimat-kalimat saya. Ah, mudah-mudahan saya tidak terdengar sok pintar!</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Itulah kenapa, Riz, aku nggak pernah menyarankan kamu untuk ngelupain Maya. Apalagi ketika kamu sedang sangat jatuh cinta sama dia. <em>Sounds impossible to get over someone when she lives and breaths in your head.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya&#8230; <em>It&#8217;s killing me even more</em>,&#8221; desis Riza. &#8220;Semakin lumpuh rasanya, La&#8230; Kayak nggak bisa ngapa-ngapain&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Karena kamu melawan semua perasaan itu, Riz. Karena kamu pura-pura tangguh dan kuat, padahal sebetulnya kamu nggak mampu melakukannya&#8230; Dan ketika energi kamu habis untuk melakukan semua usaha itu, yang tersisa adalah perasaan lelah aja&#8230; Di situ akhirnya kamu merasa lumpuh.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza mengisap racun nikotinnya sekali lagi. Asapnya mengepul keluar dari rongga hidung dan mulutnya. Saya bukan pecinta rokok. <em>In fact</em>, saya sebel sekali dengan bau rokok. Hanya saja, untuk kali ini, rasanya mustahil kalau saya menyuruh Riza tidak merokok sementara hatinya sedang gundah luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kadang, aku menyesal kenapa dulu musti ketemu sama Maya, La,&#8221; katanya perlahan, usai membakar ujung rokok-nya yang ketiga.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya, Maya, dan Riza memang baru akrab sejak beberapa bulan yang lalu. Reuni sekolah telah mengakrabkan kami bertiga, karena kesamaan minat dan pandangan yang sealiran. Kebetulan juga, kami bertiga memang masih sama-sama jomblo, sekalipun sama dan Maya sudah memiliki kekasih.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Menyesal?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya. Seandainya waktu itu aku nggak usah ketemu dia lagi di acara reuni sekolah, aku nggak bakalan seperti ini&#8230; Nggak bakal gila kayak gini&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tersenyum. &#8220;Jangan lebay, deh,&#8221; kata saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eh, serius. Aku serius,&#8221; katanya. &#8220;<em>Okay. </em>Bukan &#8216;gila&#8217; kayak pesakitan di Rumah Sakit Jiwa, tapi&#8230; <em>umm&#8230; </em>aku bener-bener udah nggak bisa mikir apa-apa lagi selain Maya, Maya, dan Maya! Edan, La&#8230; Aku edan, sekarang&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmmm&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apalagi sekarang dia mulai ngejauhin aku,&#8221; keluhnya. Air muka Riza mendadak semakin keruh. &#8220;Dan aku sudah kehabisan alasan untuk bisa ketemu sama dia. <em>Perfect</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Riz, Maya punya alasan untuk menjauh dari kamu,&#8221; kata saya akhirnya. &#8220;Maya pernah bilang sama aku, kalau dia melakukan ini semua supaya kamu nggak makin suka sama dia&#8230; Apalagi, dia sudah punya pacar. Dia juga menjaga perasaan Mas Ray&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Itu dia, La. Aku menghargai keputusan Maya, dengan cara&#8230; um, mencoba sekuat tenaga untuk melupakan dia&#8230; <em>when it&#8217;s just so impossible and killing me even more each and every day&#8230;</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>See? </em>Kamu sendiri yang bilang kalau ini <em>impossible and killing you</em>, kan?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Then, stop</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ha?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>STOP</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Berhenti melawan perasaan itu dan coba untuk kunyah saja semua rasa sakitnya. Seperti mengunyah permen karet, Riz. Semakin lama kamu kunyah, rasa itu akan semakin hilang. Jadi, kunyah saja terus, dan terus. Nikmati saja rasa yang keluar dari hasil kunyahanmu itu sampai akhirnya tidak berasa sama sekali. Saat rasanya sudah hilang, <em>spit it out</em>. Buang. Selesai.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Segampang itu?&#8221; tanya Riza.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Siapa yang bilang gampang?&#8221; Saya balik bertanya. &#8220;<em>When it comes to our heart, </em>tidak akan pernah mudah, Riz. Cuman, <em>it&#8217;s worth to try, anyway. </em>Daripada kamu bereaksi melawannya, kenapa kamu tidak <em>get along with the flow</em>? Berenang melawan arus akan lebih melelahkan ketimbang berenang mengikuti arus, kan? Biarkan saja arus membawa kamu kemanapun, sampai kamu kehabisan tenaga untuk berenang dan memutuskan untuk berhenti dan menepi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza memandang saya seperti mencoba menerjemahkan kata-kata sok pintar saya barusan. Saya sampai ingin ketawa saja karena mengingat betapa banyak metafora-metafora yang saya pakai dalam waktu kurang dari lima menit! Edan, Sarjana lulusan Fakultas Teknologi Pertanian kok ngomongin cinta sampai beribet begini, sih? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Riz,&#8221; kata saya. &#8220;<em>Easier said than done, I know</em>. Tapi, aku pernah ada di posisimu. Aku pernah merasa patah hati, sama seperti kamu. Aku pernah jatuh hati dan orang itu nggak peduli, sama seperti kamu. Sama, Riz.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh ya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tentu&#8230; Tentu. Hidup kita ini seperti sinetron, kok. Inti ceritanya sama aja, tapi pelakonnya yang berbeda-beda. Intriknya pun dibikin bervariasi, biar nggak ngebosenin. Tapi, tetap saja, intinya sama. <em>That&#8217;s why I know how you feel at this very moment, because I&#8217;ve been there.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8230;dan kamu sekarang baik-baik aja, ya, La?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ya!&#8221; sahut saya. &#8220;<em>I am happy, I am in a relationship with a man who I really love and loves me back</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmmm&#8230;. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kamu tahu, nggak, Riz?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jonathan pernah bilang sama aku kalau dia beruntung sekali pernah berkali-kali patah hati.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh ya? Kenapa?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tersenyum. &#8220;Karena dengan berkali-kali patah hati, akhirnya dia bisa ketemu sama aku saat ini&#8230; <em>Isn&#8217;t it wonderful</em>?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza tertawa. &#8220;Gitu, ya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iyaa&#8230; Begitu,&#8221; kata saya. &#8220;Dan satu hal lagi, Riz. Pelangi cuman muncul setelah hujan, kan? Langit lebih cerah setelah badai menggulung&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>When things are through, you&#8217;re gonna laugh about this moment&#8230;</em> Percaya, deh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riza menekan ujung rokoknya di atas asbak sambil menghembuskan asap rokoknya yang terakhir. Dia memandang wajah saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tapi sampai kapan, ya, La?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengedikkan bahu, tak bisa menjawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang memiliki <em>time frame </em>masing-masing. Setiap orang memiliki kapasitas untuk bisa mengukur sejauh mana mereka bisa melangkah. Setiap orang mengetahui seberapa kuat mereka menahan rasa sakit mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak tahu kapan Riza akan tersenyum lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak tahu kapan Riza akan bercerita pada saya tentang perempuan pujaannya yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak tahu kapan Riza akan menertawakan semua rasa &#8216;edan&#8217;nya saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi saya tahu persis, seperti saya yang pernah &#8216;gila&#8217; karena patah hati terlalu dahsyat dua tahun yang lalu&#8230;. ummm&#8230; atau yang setahun sebelum itu&#8230; atau&#8230;. ummm&#8230; tiga tahun sebelum itu&#8230; *gila, banyak banget patah hatinya! haha*&#8230; Riza juga akan seperti saya. Bahagia dan selalu tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kalau saya akan menangis lagi,<br />
Saya selalu meyakini, kalau saya akan selalu bisa melihat langit secerah vanila setelah badai.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya! <em>When things are through, I&#8217;m gonna laugh about it&#8230;<br />
</em><em>And maybe, with someone I called&#8230; my husband</em>&#8230;. <em> </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=28&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/10/when-things-are-through/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>and if he dies&#8230;</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/and-if-he-dies/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/and-if-he-dies/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 12:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Difficult Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore, seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba menyapa saya dichat messenger. Entahlah, saat itu dia sedang panik, butuh jawaban segera, atau karakternya memang seperti itu. Pastinya, tanpa basa basi, menanyakan kabar atau bagaimana, dia langsung segera ke inti masalah:
“Mbak, aku mau nanya, ya?”
“Tanya apa?”
“Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=24&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Suatu sore, seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba menyapa saya di<em>chat messenger</em>. Entahlah, saat itu dia sedang panik, butuh jawaban segera, atau karakternya memang seperti itu. Pastinya, tanpa basa basi, menanyakan kabar atau bagaimana, dia langsung segera ke inti masalah:</p>
<blockquote><p>“Mbak, aku mau nanya, ya?”<br />
“Tanya apa?”<br />
“Kalau Pacarnya Mbak punya penyakit parah dan sudah divonis dokter kalau usianya tinggal beberapa tahun lagi, gimana, Mbak?”<br />
“Mmmm…” Mikir.<br />
“Terus, misalnya Pacar Mbak itu nggak bisa temenin Mbak jalan-jalan, <em>hang out</em>.. ya, kayak orang pacaran pada umumnya gitu, deh… Mbak masih mau pacaran sama dia, nggak?”<br />
“Mmmm…” Mikir, jauh lebih ribet.<br />
“Gimana, Mbak?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya diam. Cukup lama, sampai teman saya itu mengira koneksi internet saya terputus. Maklum, saya memang hobi memasang status <em>invisible </em>(bukan karena apa-apa, sih, tapi karena saya memang jarang ceting aja selama jam kerja, sehingga teman saya itu tidak bisa mengetahui dengan persis apakah saya sedang berpikir atau koneksi saya mendadak terputus.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mumpung disangka <em>disconnected, </em>saya gunakan waktu itu untuk berpikir. Hehe, biar disangka pinter, gituh… Well, jujur saja, minimnya pengalaman saya pada kondisi itu, membuat saya musti mengembangkan imajinasi saya seluas-luasnya. Dan saya tahu, <em>she needed my opinion.</em>.. iya.<em> Second opinion.</em></p>
<blockquote><p>“Mbak?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Okay. Saya tahu, saya tahu. Ada satu pertanyaan yang musti saya tanyakan pada dia saat itu, sebelum saya mulai ngoceh nggak karuan ala psikolog gadungan.</p>
<blockquote><p>“Dek, gini, gini. Aku boleh nanya sesuatu, kan?”<br />
“Boleh, Mbak. Mau nanya apa?”<br />
“Memangnya, aku udah pacaran berapa lama sama Pacarku yang sakit itu?”<br />
“Kalau sudah lama, Mbak? Tiga tahunan gitu, gimana, Mbak…”<br />
“Mmm… Ok. Terus, terus. Dari awal aku udah tahu nggak, kalau Pacarku sakit?”<br />
“Kalau baru tahu sekarang?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan saat itu, <em>I know exactly what I was about going to say</em>…</p>
<p style="text-align:center;">**<span id="more-24"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jeunglala.wordpress.com/2008/06/04/when-you-love-someone/"><em>Do you know how often people lose their logic when they’re in love?</em></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya bilang ‘<em>People</em>‘ artinya adalah orang kebanyakan, bukan orang pintar atau bodoh saja, orang cantik atau ganteng saja, orang kaya atau miskin saja, atau manusia yang terkelompok-kelompok dalam golongan status, jenis kelamin, pekerjaan, agama, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>People</em>. Ya, ya, yang artinya adalah kamu, saya, dan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>So, do you know that we often lose our logic when we’re in love? Do you know how stupid you may react when it comes about love? </em>Meletakkannya di kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang bicara? Menepikan sebentar resiko-resiko sakit hati yang musti dirasakan kalau cinta itu sudah berakhir tapi perasaan itu masih nyata?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Do you?<br />
Or, for once again, </em>saya menjadi manusia aneh yang seringkali melupakan bahwa hati saya ini bukan dari besi baja (seingat saya, sewaktu terakhir<em>medical check up</em>, saya masih manusia biasa, bukan <em>bionic woman</em>.. hehe), yang punya <em>spare part</em> kalau sewaktu-waktu rusak dan proses penggantian yang tidak terlalu rumit serta minus air mata?</p>
<p style="text-align:justify;">Karena saya selalu merasa bodoh ketika sedang jatuh cinta. Saya lupa, kalau di dunia ini selalu ada konsep yang berlawanan. <em>Heaven and Hell. Right and Left. Young and Old. Dan pastinya… Happy and Sad.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bahagia ketika cinta sedang asyik bermain-main dalam setiap kedipan mata saya.<br />
Lalu sedih ketika cinta itu memutuskan untuk pergi meninggalkan saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kebodohan apa yang saya lakukan?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Most of the times, because I always knew that my relationships were going no where. I had no future with them, I couldn’t even picture them as my husbands,</em>dan berlindung di bawah shelter bernama kebahagiaan yang saya rasakan pada saat itu,<em> I know now, that it was only my defense mechanism</em>. Berkata, “<em>Nope, that’s OK</em>” padahal di malam harinya saya berteriak, “<em>Will you stop torturing me</em>!”</p>
<p style="text-align:justify;">Bodoh, kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, apakah saya juga bodoh kalau saya tak ingin beranjak pergi ketika mengetahui Kekasih yang saya cintai tak lagi bisa sebebas tahun-tahun sebelumnya, ketika ia bisa menjadi orang pertama yang akan bergegas mengantarkan saya kemana saja, selama bisa ditempuh, selama bisa dilakukan, asal tidak memintanya pergi mengantarkan saya ke Italia cuman karena saya mengidam spageti asli bikinan koki Italia?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah saya juga bodoh kalau mengubah semua kebiasaan nonton, jalan-jalan, belanja, hunting tempat hang out terbaru, dan memilih untuk berkunjung ke rumahnya dan duduk di sofa ruang keluarganya sambil menikmati film di layar televisi?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah saya bodoh kalau saya tetap ada di sampingnya ketika ia meminta saya untuk meninggalkannya, hanya karena takut dia tak pernah menjadi suami yang baik untuk seorang perempuan lajang, berpendidikan, dan memiliki karir di kantor?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah sekali lagi saya meninggalkan logika itu di bawah kolong tempat tidur dan membiarkan hati saja yang mengendalikan semua keputusan saya?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Call me stupid.<br />
Idiot.</em><br />
Atau apa saja, lah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika saya dikatakan bodoh hanya karena saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, yang harum tubuhnya sangat saya kenali, yang jemarinya selalu membelai rambut saya saat sedang menangis karena kesal yang tak berujung, yang bibirnya telah mengecup ubun-ubun kepala saya sembari memberikan sugesti dalam hati kalau sebentar lagi segala risau itu pasti pergi…….</p>
<p style="text-align:justify;"><em>He didn’t leave in my worst of times.</em><br />
<em>How could I leave my guy</em>, ketika saya tahu bahwa orang yang terdekat di dalam hatinya hanya saya, bukan Ibu dan Ayahnya, bukan Kakak-Adiknya, bukan teman-temannya, melainkan saya saja yang sudah bertahun hafal-hafal betul dengan kebiasaan nyengir khasnya, kernyitan di dahi yang khas saat berpikir, senyum manisnya yang meneduhkan, dan<em> moment without words </em>yang penuh kalimat cinta di udara?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>No, no way.<br />
I would stay.</em> Ini bukan soal saya membalas budi saja, tapi karena saya tahu,<em>leaving him in his worst of times is killing him even more. </em>Dan kalau saya meninggalkannya hanya karena saya tak sanggup melihat tubuh kekasih saya menjadi semakin kurus setiap saat lalu merasa ketakutan pada perasaan, “<em>What if he dies, tomorrow… What if he dies…. what if tonite, when I come to visit him, he’s gone in his sleep….</em>” bukankah itu sama artinya bahwa saya tak pernah menggunakan cermin untuk benar-benar utuh melihat refleksi saya sendiri?</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa saya juga manusia.<br />
Yang sanggup menarik dan menghembuskan nafas, bukan karena kendali saya.<br />
Yang sanggup berjalan, berlari, duduk, berhenti… bukan karena kendali saya.<br />
Yang sanggup melakukan semua yang saya lakukan sampai hari ini… tidak semuanya adalah kendali saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi masihkah saya harus sombong bahwa hidup saya lebih panjang dari Kekasih saya? Masihkah saya harus sombong bahwa saya tak ingin masa depan saya sia-sia karena Kekasih saya akan meninggal sewaktu-waktu dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saya?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya manusia.<br />
Bisa jadi, saya yang lebih dulu pergi, bukannya dia… <em>*sob*</em></p>
<p style="text-align:justify;">Itulah kenapa saya tidak ingin pergi. Itulah kenapa saya memilih untuk tinggal di sampingnya, menciptakan saat-saat indah yang bisa menjadi kenangan manis kami, kelak. Bisa kenangannya tentang saya, bisa kenangan saya tentang dia.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>I know, </em>akan sangat berat ketika melihat tubuhnya yang dulu gagah, kini menyusut dari hari ke hari karena gerogotan penyakit…<br />
Melihat matanya yang dulu sering mengerling nakal saat menggoda saya, kini memiliki bayang-bayang hitam di bagian wajahnya yang pucat…<br />
Melihat Lelaki tercinta saya yang gelisah karena menanti kereta penjemputan yang seolah sudah terjadwal…</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa bilang ini tidak berat? Siapa bilang saya tidak akan menangis? Siapa bilang saya tidak akan menghabiskan malam-malam saya di kamar dengan air mata sedih? <em>I’m crying because I know that my wonderful man is dying… Not crying over some futures that I would never have!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>But no matter how painful it would be…<br />
No matter how ruined my life could be…<br />
No matter how sorry I might feel, if someday I would end up being alone and wouldn’t have time to look for another…<br />
I always know,<br />
that it’s just too impossible to leave a guy, who never hurt me in my whole life time, just because he’s sick and about to die…</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>No.<br />
It’s just not me. And this is my call.</em></p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<blockquote><p>“Masa depan Mbak gimana, dong?”<br />
“Memang masa depan itu apa?”<br />
“Pernikahan, anak-anak, karir, biaya hidup…”<br />
“Itu masa depan?”<br />
“Iya, Mbak.”<br />
“<em>So, what</em>?”<br />
“Itu nggak penting?”<br />
“Penting, lah.”<br />
“Kok, Mbak masih mau sama dia… Maksudku… Bukankah itu semua akan rumit kalau Mbak tetap ada di samping Pacar Mbak?”<br />
“Rumit tidak rumit itu kan masalah hati, Dek. Semua itu tergantung dari kemantapan hati di setiap proses pengambilan keputusan. Kalau memang bimbang dan banyak keraguan, mending nggak usah. Tapi kalau memang sudah mantap, ya telan semua resikonya. <em>Make a brief preview in every choice you wanna take</em>. Dan kalau kamu sudah tahu dengan segala resiko yang terjadi, mudah-mudahan segalanya akan lebih mudah…”<br />
“Jadi?”<br />
“Jadi, ya….  <em>I’ll stay</em>.”<br />
“Bener, Mbak?”<br />
“Iya.”<br />
“Mbak nggak takut?”<br />
“<em>Scared? Well, I am</em>. Tapi bukan berarti,<em> I love him less, does it</em>?”<br />
“Iya.”<br />
“<em>So</em>?”<br />
“<em>So</em> apa, Mbak?”<br />
“<em>Are you going to stay</em>?”<br />
“Hah?”<br />
“Iya, kamu… Kamu milih untuk pergi atau ninggalin pacarmu?”<br />
“Kok aku sih, Mbak…”<br />
“Lah, tadi itu nanya-nanya buat apa, dong…”<br />
“Hehe… iseng, Mbak.. kepingin tau aja… Tadi kan aku cuman nanya pendapat aja, kan?”<br />
“Jadi?”<br />
“Hehehe… Ya udah deh, Mbak… Kapan-kapan ngobrol lagi, ya! Dweeehhh….”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya tersenyum-senyum sendiri ketika menyadari kebodohan saya; memang dari awal dia tidak pernah bilang soal itu, kok, jadi saya nyerocos panjang lebar tadi karena saya memang paling bocor kalau sudah ditanyain pendapat seperti itu. Maklum, bakat artis, kali ya… <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:justify;">Apapun itu, saya menghargai pertanyaan teman baru saya itu yang telah membuat saya semakin yakin bahwa jika itu benar-benar terjadi, saya akan melakukannya…</p>
<p style="text-align:justify;">Ya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak akan pergi. Saya akan tetap bersamanya, mencari tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan penyakitnya, menghabiskan waktu seindah mungkin berdua dengannya, bersenang-senang, tertawa… saling memeluk, mengecup, dan merasakan kehangatan tubuh kami berdua…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>And if he dies..<br />
He will see my face, as the last face he sees…<br />
He will hold my hands, as the last hands he holds…<br />
He will smile at me…</em><br />
Seorang perempuan yang tahu bahwa dia telah melakukan segalanya untuk membuat orang tercintanya bahagia, di sepanjang sisa umurnya…</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang perempuan yang tersenyum di antara isak tangisnya karena menyadari satu hal:<br />
<em>That in the whole life time God’s given to her, at least, she has made one right-perfect-clever decision…<br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">Originally written on Jan, 15, 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=24&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/and-if-he-dies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WHY?</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/why/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/why/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:20:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Broken Hearts]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pagi tadi, sebelum saya ‘hampir kehabisan nafas’ karena banyak pekerjaan, seorang teman mengobrol dengan saya di jendela percakapan Facebook. Namanya Shinta, kakak perempuan dari teman les Bahasa Jepang saya yang ternyata juga sudah mengenal saya dari milis sebuah majalah perempuan. What a small world.
Dia menyapa saya terlebih dulu. Saat itu saya sedang asyik membuka youtube.com untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=11&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Pagi tadi, sebelum saya ‘hampir kehabisan nafas’ karena banyak pekerjaan, seorang teman mengobrol dengan saya di jendela percakapan Facebook. Namanya Shinta, kakak perempuan dari teman les Bahasa Jepang saya yang ternyata juga sudah mengenal saya dari milis sebuah majalah perempuan. <em>What a small world</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menyapa saya terlebih dulu. Saat itu saya sedang asyik membuka youtube.com untuk mencari video klip 3T, kelompok vokal beranggotakan keponakan-keponakannya Michael Jackson, yang berjudul <strong>Why; </strong>selain bertujuan untuk mendengarkan lagu tersebut, saya juga berniat untuk menulis sesuatu <em>based on that song</em>. Lagu ini memang termasuk lagu favorit saya dan sumpah mati dulu pernah tergila-gila dengan anggota-nya yang paling bungsu! Haha!<span id="more-11"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya tidak ada yang istimewa dari percakapan kami berdua; hanya sekedar <em>being nice</em> saja. Menyapa, memberikan salam, bertanya keadaan, dan semuanya mengalir begitu saja <em>(hey, at the end of conversation, saya dapat ajakan untuk bedah buku di coffee corner lho! Can you imagine? Betapa menyenangkannya membahas sebuah dunia yang saya cintai di sebuah tempat yang saya akrabi! Uhui!</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Percakapan <em>seadanya</em> itu menjadi seru ketika saya iseng melihat status yang ia tulis pagi ini.  <strong>“Bagaimana kamu tahu kalau lelaki itu benar-benar jodohmu?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Segera saya iseng mengetik beberapa kalimat:<br />
“<em>You just know</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Percakapan menggelinding.<br />
“Hanya rasa aja, Mbak?” tanya Shinta.<br />
“He eh,” tukas saya.<br />
“Cuman perasaan?” masih tanya kawan saya itu.<br />
“He eh. Kamu tahu kenapa?” kini giliran saya bertanya.<br />
“Apa, Mbak?”<br />
“Karena buat aku, Dek, siapa jodoh kita baru bisa benar-benar kita ketahui di akhir hidup kita. Selama nafas masih bebas dilakukan, kita nggak akan pernah tahu siapa yang menjadi jodoh kita. Jadi buat apa menanyakan pertanyaan yang tak bisa dijawab, kan? Kalau pertanyaan itu aku jawab, artinya aku sudah mati. Serem, kan?”<br />
“Gitu, ya, Mbak?”<br />
“Hm, paling tidak, itu menurut aku, Dek. Makanya, daripada repot-repot bertanya, mendingan kita tajemin intuisi aja dan percaya bahwa kita telah memilih orang yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidup. Mempersiapkan diri menghadapi apapun yang akan terjadi sebagai konsekuensi,” lanjut saya, masih dengan lagak sok keminter! Haha… edan bener, deh, Jeung Lala kalau lagi ngasih ceramah!<br />
“Jadi, cuman intuisi aja, Mbak?”<br />
“Shin, jodoh itu tidak punya kriteria, tidak ada parameter yang jelas. Beda dengan suami atau istri yang baik. Dari awal, kalau aku tahu lelaki itu hobi ninju badanku, artinya dia bukan suami yang baik (<em>petinju yang baik, mungkin? hehe</em>). Ngapain aku menikah sama dia? Parameter dan kriteria seperti itu bisa kita terapkan, tapi soal jodoh? Apa kriterianya? <em>Wong </em>itu sudah diatur ketika kita masih janin, kok!”</p>
<p style="text-align:justify;">Percakapan dengan Shinta membuat saya teringat dengan percakapan beberapa jam sebelumnya, dengan seorang gadis manis di Jawa Barat sana yang tiba-tiba mengirim sebuah <em>email</em> dan isinya hanya pendek saja: “Mbak, aku lagi sedih…”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari beberapa <em>email</em> berikutnya, saya akhirnya tahu kalau dia baru saja berpisah dengan tunangannya. Iya. Tunangannya! Lelaki yang baru saja menyematkan cincin pertunangan dan mengajaknya merancang hari bahagia mereka dalam waktu dekat, ternyata tak lagi sepaham.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I want to be dissapeared…</em>” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia merasa dunianya runtuh. Hah. Jelas saja! Saya yang putus pacaran saja bisa kelimpungan seperti orang gila, apalagi teman saya ini? Adik perempuan saya ini? Saya ingat betapa bahagianya dia saat bercerita tentang rencana pernikahannya ini, jadi saya bisa membayangkan betapa hancur hatinya saat ini! (<em>Dek, be strong! Ayo, inhale-exhale… pelan-pelan aja, ya…</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa harus begini, sih?” Dia mengeluh.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan itulah yang tiba-tiba muncul kembali di dalam isi kepala saya ketika Shinta bertanya: “<em>Bagaimana kamu tahu kalau dia benar-benar jodohmu?”<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hm…<br />
Kamu tahu, nggak, kenapa?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Karena keduanya adalah jenis pertanyaan yang sebetulnya tak perlu kamu jawab, tapi kamu rasakan… kamu maknai dalam hati… bukan menuntut jawaban pada saat itu juga, tapi kamu ketahui pelan-pelan… Nanti. Tidak sekarang. Nanti. Sabar saja.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><em><strong>Kenapa harus begini, sih?</strong><br />
Well, I don’t know, Dear.  You’ll figure it out, later.</em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><em><strong>Bagaimana kamu tahu kalau dia benar-benar jodohmu?</strong><br />
Well, frankly, I have no idea. You just know. Later.</em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><em><strong>Kapan aku menemukan seseorang yang bisa membuat kupu-kupu itu terbang di atas perutku?</strong><br />
Well, I have no idea, Jeung Lala. Sabar napah! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertanyaan-pertanyaan itu adalah percuma; tidak pernah ada jawaban instan, kecuali kamu jalani, kecuali kamu lewati, kecuali kamu biarkan waktu bergulir dan berbicara padamu di saat yang paling tepat. Dan ketika ia sedang bicara padamu, dengarkan. Biarkan dia berbicara ke hatimu. Biarkan dia membisik di telingamu. Dengarkan saja. Dan saya yakin, kamu akan tersenyum<em> </em>saat mengetahui jawabannya…</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Why does Monday come before Tuesday ?<br />
Why do summers start in June ?<br />
Why do winters come too soon ?<br />
Why do people fall in love,<br />
When they’re always breaking up ?<br />
Oh why ?<br />
Why do we love if love will die ?<br />
Why does Wednesday come after Tuesday ?<br />
Why do flowers come in May ?<br />
Why does springtime go away ?<br />
Why do people fall in love,<br />
When they’re always breaking up ?<br />
Oh why ?<br />
Why do I love you ? Tell me why?<br />
(<strong>Why, 3T)</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mereka cerewet banget, kan? Nanya mulu! <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /><br />
Mana saya tahu kenapa duluan Senin daripada Selasa? (<em>eh, jangan-jangan udah ada teorinya, tapi saya-nya yang gebleg? hihi!</em>)<br />
Mana saya bisa tahu kenapa musim panas bermula di bulan Juni? (<em>udah deh, ya.. kalau emang ada teorinya, berarti saya bener-bener gebleg! Haha</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>I’m clueless.</em> Benar-benar nggak tahu. Bego, sebego-begonya! Sumprit! Kalau nggak percaya, tanya aja toko sebelah! *haha, ini sih, kata-katanya <strong><a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com/">OM NH18</a></strong> banget…*</p>
<p style="text-align:justify;">Dari semua pertanyaan itu, saya bisa menjawab, <em>at least</em>, satu saja. Pertanyaan yang ini nih: <em>Why do people fall in love when they’re always breaking up ?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mau tahu apa  jawaban saya?<br />
Sederhana saja.<br />
<em><strong>Because it feels so damn nice when it works out!</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Iya, nggak, siiihhhhh…. *kedip-kedip* <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">Originally written on Feb, 20, 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=11&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/why/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>When Hating Him is the Most Possible Way Out</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-hating-him-is-the-most-possible-way-out/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-hating-him-is-the-most-possible-way-out/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:15:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Broken Hearts]]></category>
		<category><![CDATA[Guys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right
Have you ever, have you ever…
(Have You Ever, BRANDY)
&#160;
Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=9&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p><em><strong>Have you ever loved somebody so much it makes you cry<br />
Have you ever needed something so bad you can’t sleep at night<br />
Have you ever tried to find the words but they don’t come out right<br />
Have you ever, have you ever…</strong></em></p>
<p><strong>(Have You Ever, BRANDY)</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Itu adalah cuplikan dari salah satu lagu yang sempat populer di tahun 1998, masa awal-awal kuliah dulu. Sebuah lagu yang akhirnya menggiring saya pada pertanyaan yang sama, untuk diri saya, juga untuk kamu, untuk kalian.<span id="more-9"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Have you ever loved somebody, so bad</em>?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sampai-sampai kamu kehilangan sejuta akal dan logika yang dipersembahkan Tuhan kepadaMu, sehingga kamu melakukan apa saja asal itu bisa membuktikan bahwa kamu mencintai Kekasihmu? Tidak perlu yang terlampau jauh, tapi <em>let’s say</em>… yang dimaksud dengan melakukan apa saja itu seperti kamu mau-mau saja harus dikekang dengan dia yang otoriter. <em>OK. Being sensitive is good</em>, tapi kalau sampai membelenggu kaki-kaki kamu dalam melangkah dan bersosialisasi lalu membuat kamu hanya berada dalam satu rangkulannya saja… <em>Hey! it’s no longer being sensitive… it’s a </em>Hitler<em> in disguishe</em>!<img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak contoh lain kebodohan-kebodohan yang terjadi ketika saya atau kamu sedang jatuh cinta seperti yang pernah saya ceritakan di <strong><a href="http://jeunglala.wordpress.com/2008/06/04/when-you-love-someone/">sini</a></strong>. Betapa naifnya saya dan kamu ketika bunga-bunga, berikut dengan kupu-kupu warna-warninya, tergambarkan dengan sempurna di hati. <em>When love is in the air…</em>sepertinya hidup menjadi jauh lebih menyenangkan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em><strong>Have you ever found the one you’ve dreamed of all of your life<br />
Just about anything to look into their eyes<br />
Have you finally found the one you’ve given your heart to<br />
Only to find that one won’t give their heart to you<br />
Have you ever closed your eyes and dreamed that they were there<br />
And all you can do is wait for the day when they will care…</strong></em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi…</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang terjadi ketika kita cinta itu menghabis? Atau bahkan, ketika saya atau kamu menawarkan sejuta kasih sayang berbalut pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya, tetapi si Pemilik Hati yang tengah kita hadiahi cinta itu malah kabur, lari, atau menolak dan mengatakan, “<em>I’m so sorry, </em>saya nggak bisa mencintai kamu, <em>like you always wanted me to do</em>“?</p>
<p style="text-align:justify;">Menangiskah, kamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Bersedihkah, kamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Berteriak marah-marah, sekaligus menyumpah?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau kamu diam… Diam saja.. Lalu perlahan-lahan kamu berkata dari dalam hati, “<em>Seandainya memang ini nggak terbalaskan… Seandainya memang cinta harus berhenti… Saya akan pergi saja..</em>. <em>Sampai saya menemukan kekuatan untuk menyentuhnya lagi, minus hati yang bergetar…</em>“</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu berhak melakukan apa saja untuk menenangkan hati kamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa dengan menangis tanpa henti…</p>
<p style="text-align:justify;">Atau ‘bertapa’ di dalam kamar sampai berhari-hari…</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu marah-marah, berteriak, dan menyumpahi… <em>Screw you, a**ho*e</em>…</p>
<p style="text-align:justify;">Apapun itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi…</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika kamu berpisah dengan seseorang yang sungguh kamu cintai itu, hanya karena kamu HARUS berpisah? Bahwa kamu TERPAKSA berpisah? Ketika cinta menyala hangat di dalam dada kamu, tiba-tiba saja kamu harus memadamkannya dan membiarkan cinta itu tak lagi menghangatimu?</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal saat itu; hanya wajahnya yang teringat di dalam benak…</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya senyum lucunya…</p>
<p style="text-align:justify;">Atau guyonan segarnya yang membuatmu tertawa sendiri setiap mengingatnya…</p>
<p style="text-align:justify;">Ya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang kamu lakukan ketika kamu harus menyudahi perasaanmu padahal cinta itu masih demikian hebatnya mengguncang duniamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Hm…</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ini terjadi pada perempuan terdekat saya, dia hanya bisa bilang begini:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I’ll try to forget him, </em>La…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana?”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Simply by.. hating him</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Membenci dia? Apa salahnya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia nggak salah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lantas?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku harus punya alasan untuk melupakan dia, <em>right in the moment when I love him the most…</em>“</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I am lost</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku nggak bisa dengan sengaja melupakan dia, La. Aku harus punya perasaan marah sama dia supaya aku punya alasan untuk melupakan dia.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi?”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>When hating him is the most possible way out… I think I better doing it…</em>“</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan terdekat saya itu memilih untuk membenci lelaki yang ia puja. Membenci lelaki yang memberinya mimpi-mimpi indah. Yang menghadirkan surga lebih dekat; <em>only one call away</em>. Yang membuat hari-harinya sungguh lengkap; tawa, canda, dan air mata rindu yang tertahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia memilih untuk marah saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Benci saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu membiarkan amarah dan kebencian itu membakarnya…</p>
<p style="text-align:justify;">Dan menumbuhkan inginnya untuk melupakan sang Kekasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekasih, yang tidak pernah salah apa-apa…</p>
<p style="text-align:justify;">Hhh…</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya itu terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Membenci juga? Lalu marah?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau… mencoba untuk menikmati saja setiap luka sampai perlahan-lahan saya capek sendiri?</p>
<p style="text-align:justify;">*sigh*</p>
<p style="text-align:justify;">Entahlah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kamu? <em>What will you do</em>?</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">Originally written on October 14, 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=9&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-hating-him-is-the-most-possible-way-out/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>when you just can&#8217;t picture him in your fantasy</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-you-just-cant-picture-him-in-your-fantasy/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-you-just-cant-picture-him-in-your-fantasy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Guys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu kemarin, saya ‘kencan’ dengan sahabat saya, Lin. Anak edun, sinting, tapi cantik dan baik hati itu menemani saya minum coklat blended di sebuah gerai donat yang menyediakan layanan hotspot gratisan. Kenapa bukan kupi??? Karena maag saya lagi kumat abis-abisan dan Pacar bilang saya musti stop minum kopi untuk sementara waktu… aarrrgghhh… I miss coffee so f**king much! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=7&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Sabtu kemarin, saya ‘kencan’ dengan sahabat saya, Lin. Anak edun, sinting, tapi cantik dan baik hati itu menemani saya minum coklat <em>blended</em> di sebuah gerai donat yang menyediakan layanan <em>hotspot </em>gratisan. Kenapa bukan kupi??? Karena maag saya lagi kumat abis-abisan dan Pacar bilang saya musti stop minum kopi untuk sementara waktu… aarrrgghhh… <em>I miss coffee so f**king much</em>! Dan terdamparlah saya di sofa-sofa empuk tersebut, di depan <em>laptop,</em>dan di sisi seorang sahabat yang sepertinya sedang punya banyak cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yah. Ternyata Lin memang sedang <em>overloaded</em> dengan cerita-cerita menyangkut hatinya. Dan karena itulah, saya musti pamit dengan Pacar yang kebetulan sedang <em>online </em>dan mendengarkan cerita-cerita Lin.<span id="more-7"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari prolognya, saya mulai menangkap bahwa dia memang sedang ada di<em>intersection</em>, berdiri nggak jelas di persimpangan tanpa tahu harus mengambil jalan yang mana. <em>Which way to go? The left one? Or the right one? Or should I just go straight ahead?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata masih soal si lelaki yang sudah bikin hari-harinya berwarna warni tapi…</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>It wasn’t love</em>, Lala,” kata Lin sambil nyeruput <em>blended chocolate</em> yang saya beli itu *ah, anak ini doyannya gratisan ajahh.. hehe* “Ini bukan perasaan yang sama seperti gua dulu…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Waktu sama si Rogal yang nggak jelas itu?” tanya saya sambil ngerasa bete-surete. Ah, kenapa cowok satu itu nggak pernah bisa kabur dari pikiran sahabat saya ini sih?? Kenapa masih sok nekat main-main di hati sahabat saya dan bikin Lin nggak bisa ‘kemana-mana’??</p>
<p style="text-align:justify;">Lin mengangguk. Dia tahu kalau saya benci banget sama si Rogal itu. Cowok yang disebut-sebut sebagai lelaki terindahnya itu. Yang punya segalanya yang Lin inginkan. Fisik yang sempurna, kebisaan yang luar biasa, dan yaa…<em>he was the right man in the right place</em>. Datang ketika sahabat saya merindukan bagaimana rasanya jatuh cinta setelah bertahun-tahun mati rasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yap. Dengan cowok yang menurut lu ga jelas itu, La,” kata Lin sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. “Tapi sama dia, gua ngerasa itu… Perasaan yang itu, tuh…”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Shivering things</em>?” tanya saya. FYI, <strong><em>Shivering Things</em></strong> adalah istilah saya dan Lin yang merujuk pada getaran-getaran aneh tapi menyenangkan ketika kita bersama dengan seseorang. Ada yang menyebutnya <strong><em>Butterfly</em></strong>, ada yang menyebutnya <strong>Zsa Zsa Zsu</strong>. Yang jelas, itu perasaan yang sumpah, <em>unbelieably amazing</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya. Itu, tuh. <em>The Shivering Things</em> itu… Dan gua sama sekali nggak ngerasain itu sama Rudy. <em>Not a single things</em>. Gua nggak pernah merasa bergetar tiap deket dia. Nyender, ya nyender aja. Deket, ya deket aja. Tapi perasaan gua adem, tenang, dan nggak ada deg-degannya sama sekali…. Argghh.. gua bingung juga La…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bingungnya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Karena temen-temen yang lain pada ribut supaya gua bisa <em>moved on</em>, supaya gua bisa belajar untuk suka sama dia. <em>Never mind about the Shivering Things</em>, yang penting Rudy adalah cowok yang baik buat gua…”</p>
<p style="text-align:justify;">Karena memang, Rudy bukannya cowok yang nggak baik. Atau jelek. Atau ekstrimnya begini: dia bukanlah cowok yang nggak banget. Bisa dibilang, <em>he’s the right man but in the wrong time and place</em>. Mungkin sama seperti bibit unggul yang ditanam di tanah yang tidak subur. Tidak akan bisa tumbuh dengan baik. Jadi, gimana ’sempurna’nya Rudy… <em>in my bestfriend’s heart</em>… dia tetaplah lelaki yang minus pesona <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" alt=":(" /></p>
<p style="text-align:justify;">“Susah, La. Kalau hati udah nggak ngerasain apa-apa, gimana gua bisa<em>moving forward</em> sama dia?” Lin menghela nafas. Saya tahu, dia sedang berjuang mencari tahu apa yang sesungguhnya dia inginkan. Cinta yang sedang tersodor di depan hidungnya atau mengulik-ulik masa lalunya yang masih ada di dalam hatinya. Oh <em>My</em>… <em>She’s just so devastated, I guess. </em>Capek hati. Hhhh…</p>
<p style="text-align:justify;">“Lin, gua nggak bisa nyaranin elu untuk jalan sama dia atau nggak… Karena ini soal elu nyaman atau nggak sama dia. Selama elu nyaman, ya <em>go ahead</em>. <em>If not</em>, jangan paksa diri elu deh. Karena gua pernah ngerasain itu… dan sumpah, itu nggak enak banget…”</p>
<p style="text-align:justify;">…<em>karena ada satu lelaki dalam hidup saya, dulu hadir ketika saya nggak cinta sama sekali, dan butuh perjuangan untuk mencoba menerima dia… Sampai suatu saat saya sadar, kalau saya tetap dekat dengan dia… Saya menyiksa dia… Juga menyiksa diri saya sendiri…</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, ya, gua ingat cerita lu itu, La…” kata Lin. Sahabat saya itu tahu banget sejarah saya. Mulai dari pacar pertama sampai yang terakhir ini. “Dan gua ingat, gimana elu tersiksa banget saat nyoba untuk cinta sama dia… Waktu itu lu terpaksa jadian karena dia yang cinta banget ama elu dan lu dipaksa ama temen-temen kan?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengangguk. “Itulah kenapa, gua nggak bisa maksa kalau elu nggak nyaman, Lin. Karena <strong><em>somehow, I just knew that a love without a feeling is so frustrating</em>.</strong> Kalau kita nggak punya <em>passion</em> sama sekali dengan pasangan, <em>we have so many excuses to stay away from him…</em> <strong>Dan apalah artinya sebuah komitmen kalau kita berlomba-lomba untuk berlari menjauh</strong>?”</p>
<p style="text-align:justify;">Kami terdiam. Beberapa saat. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang hilir mudik di depan gerai donat, musik yang berdentum-dentum dari pengeras suara, dan di depan <em>laptop</em> yang layarnya memantulkan cahaya terang itu, kami berdua seperti mencoba untuk mendengarkan suara hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa sih yang kita cari, Lin?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang jelas… gua menyesal karena dulu sudah menyakiti orang itu… Yang gua tinggalin begitu saja karena gua nggak pernah bisa mencintai dia, seperti dia ke gua… Dan ketika sekarang dia udah menikah dan berkata, “Ah, coba waktu itu kamu nggak putusin aku.. Mungkin sekarang kita udah punya anak dua kali, Non…” Gua nggak tahu, apakah gua lega karena dia sudah menemukan pelabuhan sejatinya atau gua sedikit menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum beranjak pergi dari gerai donat itu dan memutuskan KITA-<em>HAVE FUN</em>-AJA-YUK *yap, dengan belanja-belanja yang nggak penting ituh.. <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /> *, Lin nyeletuk sesuatu yang bikin saya merasa ‘nyesss’ di hati. Sederhana sih, sangat sederhana malah. Karena Lin hanya bilang begini:</p>
<blockquote><p>“<em><strong>How can I’m with someone when I just can’t even picture him in my fantasy</strong></em>?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">…sampai sekarang, Lin masih ada di persimpangannya… dan sedihnya… kali ini, saya nggak tahu musti bagaimana untuk membantu dia memilih..<strong>*because it’s her life… and she has all the right to make every wrong decision and she also has the right to learn something from them…*</strong>…</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">Originally written : June 30, 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=7&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/when-you-just-cant-picture-him-in-your-fantasy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Selalu Mencintai Lelaki-Lelaki yang Salah, ya, La?</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/kenapa-kita-selalu-mencintai-lelaki-lelaki-yang-salah-ya-la/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/kenapa-kita-selalu-mencintai-lelaki-lelaki-yang-salah-ya-la/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guys]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Wrong Guys]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lalabicaracinta.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut sahabat saya ketika pagi tadi kami bergosip via telepon.
“Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?”
Dan pertanyaan itu dengan segera membuat saya kepikiran, bahkan ketika kami menyudahi percakapan 11 menit yang musti selesai karena jumlah pulsa yang tidak mencukupi untuk melanjutkan percakapan.
Dalam 11 menit tadi, akhirnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=5&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Ada satu pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut sahabat saya ketika pagi tadi kami bergosip via telepon.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pertanyaan itu dengan segera membuat saya kepikiran, bahkan ketika kami menyudahi percakapan 11 menit yang musti selesai karena jumlah pulsa yang tidak mencukupi untuk melanjutkan percakapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam 11 menit tadi, akhirnya kami memang tidak banyak bicara soal ‘Lelaki-Lelaki yang Salah’ itu tadi. Percakapan dua sahabat dengan durasi pendek itu akhirnya mengalir ke hal-hal yang lain, seperti membuat janji untuk berkangen-kangenan akhir pekan ini.<span id="more-5"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tapi saya ingat, Yun bilang begini:</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku juga nggak ngerti, La, kenapa aku selalu ketemu laki-laki yang ternyata sudah beristri lah… Yang nggak se-agama lah… Yang keluarganya reseh lah…” Dan ya, <em>I recall every names she mentioned, </em>lelaki-lelaki yang telah mengacak adut hati sahabat saya itu. “Kenapa sih, La?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu saya cuman cengar-cengir dan mulai mengalihkan pembicaraan. Dengan mengetahui persis berapa jumlah pulsa yang tersisa di ponsel saya siang tadi,  saya tak berani melanjutkan pembicaraan ini kemana-mana. <em>We still have this weekend to talk about this, in details. Hm, I bet,  it’s going to be hot</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Usai 11 menit itu, lalu menghabiskan waktu dengan melakukan banyak hal, dan kembali lagi ke depan laptop, di dalam sebuah  ruang kamar yang tak berpenghuni selama lima hari, saya kembali memikirkan pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Really, </em>Yun<em>?<br />
Always ‘trapped’ with the wrong guys?<br />
</em>Kamu? Saya? <em>Seriously</em>?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kata-kata ini benar: Cinta Tak Pernah Salah.<br />
Berarti yang salah cuman saya, juga Yun.<br />
Tapi kenapa kami malah harus bertemu dengan mereka ketika mereka malah membuat kami terluka? Kenapa ketika mereka tak bisa membalas apa yang kami berikan lalu berselingkuh dengan perempuan lain? Atau, ketika mereka mencintai kami, tapi telah berjanji pada hati perempuan lain?</p>
<p style="text-align:justify;">Apa maksudnya?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Somehow</em>, saya selalu percaya bahwa setiap orang yang datang ke dalam hidup saya tidak datang untuk sia-sia. Mereka datang untuk ‘mengajari’ saya. Mereka tidak hanya melukai, tapi mereka memberikan kekuatan pada saya untuk mengunyah luka itu dengan sepenuh hati, sambil perlahan-lahan, dengan berjalannya waktu, saya tahu, dalam setiap kunyahan luka itu saya telah mencicipi sebuah pelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi… kenapa harus berkali-kali, ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Apa saya memang harus bergelar Doktor dulu baru semua ini selesai?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau memang… seperti  yang Ties, <strong><em>My Mirror</em></strong>, bilang, bahwa…</p>
<p style="text-align:justify;">“<em><strong>Because we’re challenged people. Only selected people who can deal with this. ‘Normal’ people don’t have that ability to face this. Only us. The challenged ones</strong></em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi maksudnya, saya dan Yun (juga kamu ya, Ties?) adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi ‘pintar’? Begitu?</p>
<p style="text-align:justify;">Hh…</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pergumulan batin yang minus kopi tapi plus perut keroncongan karena belum diisi, saya putuskan untuk melakukan ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP ASKING A QUESTION THAT WE’LL NEVER FIND OUT WHAT IS THE ANSWER</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena kamu hanya akan frustasi.<br />
Karena kamu hanya akan gila sendiri.<br />
Karena kamu hanya akan sinting sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>There.<br />
At this very moment</em>, saya tepiskan saja pertanyaan Yun tadi, yang sempat meracuni pikiran saya seharian ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita nggak mencintai lelaki yang salah, Yun… Mungkin malah mereka yang mencintai perempuan yang salah…”</p>
<p style="text-align:justify;">Karena…</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang saya mencintai lelaki yang salah, apakah mereka, lelaki-lelaki yang salah itu, yang sampai kini masih sendiri dan bermain-main dengan hati perempuan lain, tidak menganggap Lala, alias saya sendiri, adalah perempuan yang salah juga? Buktinya mereka memutuskan untuk merebut hati perempuan lain karena merasa telah salah memilih saya, kan? <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">Originally Written on : 18 Agustus 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=5&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/kenapa-kita-selalu-mencintai-lelaki-lelaki-yang-salah-ya-la/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/hello-world/</link>
		<comments>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 07:31:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeunglala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=1&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lalabicaracinta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lalabicaracinta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lalabicaracinta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lalabicaracinta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lalabicaracinta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lalabicaracinta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lalabicaracinta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lalabicaracinta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lalabicaracinta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lalabicaracinta.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lalabicaracinta.wordpress.com&blog=10315536&post=1&subd=lalabicaracinta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lalabicaracinta.wordpress.com/2009/11/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c73b02625c4ae0de135c66fd728fddcb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Lala Purwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>